Biru atau hijau?

Biru atau hijau?

November 18, 2014 Culture Japan Language 0

Birunya laut dan hijaunya daun, buat kita mungkin jelas perbedaannya. Warna laut itu ya biru, warna daun ya hijau. Namun jika anda sedang atau pernah berkunjung ke Jepang, anda mungkin akan kebingungan sendiri. Kata bahasa Jepang untuk warna biru adalah “ao” (青) atau “aoi” (青い). Uniknya, warna hijau daun, hijau buah-buahan muda, hijau sayuran dan sejenisnya, juga disebut “ao” atau biru. Sama dengan warna hijau di lampu lalu-lintas yang juga disebut “ao”. Nah, bingung kan?

test

Kelihatannya, perbedaan antara biru dan hijau seperti yang kita kenal tidak begitu penting di Jepang. Lihat saja, pada beberapa lampu lintas, kadang-kadang warna lampu “hijau” (yang menandakan boleh jalan) memang dibuat cenderung biru ketimbang hijau, seperti pada gambar berikut:

biru

Sebenarnya bahasa Jepang memiliki kata sendiri untuk warna “hijau”, seperti yang kita kenal. Kata itu adalah “midori” (緑). Namun kata ini relatif baru diperkenalkan pada periode Heian (tahun 194~1185 masehi). Pada tahun 1917, crayon diimpor ke Jepang untuk yang pertama kalinya. Seperti yang kita tahu, ada perbedaan jelas pada 12 warna crayon yang umum, termasuk di dalamnya warna biru dan hijau. Itulah pertama kalinya anak-anak Jepang mulai mengadopsi kata baru: “midori” untuk membedakannya dari “ao”. Tapi kata tersebut baru mulai jamak digunakan di dunia pendidikan setelah Perang dunia II. Pada tahun 1951, pemerintah Jepang memasukkan pembedaan “midori” dan “ao” ke dalam pedoman pelajaran untuk sekolah dasar.

Meskipun demikian, sampai saat inipun masih banyak orang Jepang yang menganggap warna hijau tak lebih dari salah satu gradasi dari warna biru. Buat mereka ini, “pagar” antara biru dan hijau tidak signifikan, tidak perlu sakleij seperti batangan-batangan crayon. Mungkin ini alasan orang Jepang jaman dulu (sebelum periode Heian) yang tidak merasa perlu membuatkan kata-kata yang berbeda untuk warna hijau dan biru dalam bahasanya.

Apakah ini terjadi hanya di Jepang? Ternyata tidak. Pembedaan antara warna biru dan hijau ternyata bervariasi di berbagai bahasa dan kebudayaan dunia. Contohnya dalam bahasa korea, kata “paran” bisa berarti biru atau hijau, seperti pada: “pureun haneul” yang berarti “langit biru” dan “pureun sup” yang berarti “hutan hijau”. Silahkan lihat contoh-contoh untuk bahasa/kebudayaan dunia yang lain di dokumen Wikipedia ini.

Tapi jangan jauh-jauh ke negara orang. Di Indonesia sendiri, minimal di daerah Minahasa tempat saya dibesarkan, pernah ada “kebingungan” seperti ini. Saya masih ingat, mendiang opa dan oma saya dulu sering “tidak bisa” membedakan antara hijau dan biru: “Win, mangga-nya masih biru jangan dulu dimakan. Nanti mulut bisa luka”. Hehehehe. Sejak kapan ini berawal? Atau, apakah ada pengaruh budaya Jepang yang pernah hadir di Nusantara tahun 1940-an? Saya juga tidak tahu. Tapi buat saya, bervariasinya pembedaan warna biru dan hijau lintas budaya dan bahasa di belahan dunia ini adalah kenyataan yang menarik. Ini membuktikan bahwa apapun di dunia ini akan selalu kembali ke persepsi kita masing-masing, bahkan untuk sesuatu yang kita pikir universal seperti warna biru dan hijau sekalipun.

Referensi:

  1. 5 facts about colors that will change how you see world.
  2. Distinction of blue and green in various languages.
  3. The crayola-fication of the world: How we have colors names, and it messed with our brains

Images via http://www.cracked.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *