Hati Yang Murni

Hati Yang Murni

February 18, 2007 Christianity 0

Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 23:1-11

Dahulu kala hiduplah seorang raja yang dalam hidupnya tidak dikaruniai anak. Karena ia sudah tua dan sebentar lagi pensiun, ia pun menggelar suatu sayembara untuk mencari raja baru menggantikan dia. Maka dikumpulkanlah para pemuda yang pintar dan cakap di seluruh kerajaan itu. Kepada mereka sang raja berkata: “Kepada kamu aku berikan sebiji benih tanaman. Tanam dan pelihara benih ini sebaik-baiknya! Suatu hari nanti aku akan memanggil kalian lagi dan siapa yang tanaman paling baik, dialah yang kutunjuk menjadi raja penggantiku.” Demikianlah mereka pulang dan menanam benih itu dengan sebaik2nya sesuai dengan perintah raja.

Salah seorang dari pemuda itu, katakanlah namanya Simon, sangat antusias dengan sayembara itu. Bibit yg diberikan raja ditanamnya di sebuah pot kecil dan disiraminya setiap hari. Tapi aneh! Waktu berlalu, tapi tidak ada tanda2 benih mau bertumbuh. Padahal hampir setiap hari teman2nya memamerkan keindahan tanaman2 mereka bertumbuh dengan suburnya. Ini membuat simon menjadi kecewa sekaligus kuatir, jangan2 raja marah kepadanya karena tanaman itu.

Maka tibalah waktunya, mereka semua diundang oleh raja untuk memperlihatkan tanaman mereka. Simon sebenarnya enggan untuk pergi, tapi ibunya memaksa ia untuk menunjukkan hasil tanamannya apa adanya. Dan betul! kecuali Simon yang hanya membawa sebuah pot kecil tanpa tanaman apapun, semua tanaman2 yang dibawa ke hadapan raja, bagus2 dan terawat dengan baik. Sambil tersenyum2 raja memeriksa semua tanaman itu sambil sekali2 memuji mereka karena bagusnya tanaman itu. Tiba saat tanaman Simon diperiksa, senyum di wajah sang raja hilang! “Hai Pemuda, bawa kesini tanamanmu”…

Meskipun agak kuatir akan mendapat hukuman, namun dengan berani Simon tetap maju ke depan untuk memperlihatkan hasil tanamannya kepada raja. “Kenapa kau hanya membawa sebuah pot kosong, mana tanamanmu!” kata raja. Dengan penuh kejujuran Simon menjawab: “Baginda, saya telah menanam benih yang baginda berikan dan merawatnya dengan baik. Setiap hari saya tidak pernah lupa menyiraminya itu dengan air. Tapi sungguh baginda, benih tidak pernah bertumbuh”.

Tiba2 sebuah senyum tersungging di bibir sang raja tua itu. Dia pun meminta Simon untuk berbalik dan menghadap semua orang yang hadir pada waktu itu, dan berkata: “Saudara-saudara, benih yang aku berikan pada beberapa bulan yang lalu, adalah benih yang sudah mati dan tidak mungkin lagi bertumbuh. Jadi saya tidak habis pikir, dari mana asalnya tanaman2 yang kalian bawa pada hari ini. Hanya pemuda ini yang telah menunjukkan keberanian dan kejujuran hatinya kepada kita sekalian pada hari ini. Dialah raja kalian yang baru!”

Bapak, ibu, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Keberanian dan kejujuran yang sama, ditunjukkan pula oleh Rasul Paulus dalam perikop pembacaan kita pagi ini. Meskipun diperhadapkan pada resiko mendapat hukuman yang berat namun Paulus tetap berani dan dengan jujur mempertanggungjawabkan imannya di depan banyak orang.

Pada hari itu Paulus dibawa untuk hearing di hadapan Mahkamah Agama. Adapun mahkamah agama ini, yang dalam bahasa ibrani disebut Sanhedrin, adalah sebuah lembaga hukum dan legislatif tertinggi dalam tradisi kehidupan orang2 Yahudi. Beranggotakan imam2 dari golongan saduki dan sebagian dari golongan farisi, majelis ini diketuai langsung oleh Imam Besar dengan kekuasaan yang mutlak. Di hadapan Majelis ini Paulus dengan keberanian berkata: “sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.”

Saudara-saudara, kalimat ini bukan mencerminkan sikap yang sombong ataupun sok suci dari Paulus. Tetapi dengan kalimat itu dia menunjukkan ingin menunjukkan bahwa apa yang katakan, apa yang ia ajarkan, sampai pada hari itu tetap seiring-sejalan dengan cara hidupnya sehari-hari. Maksudnya ini jelas sekali ketika orang menampar Paulus dan ia menjawab: “Allah akan menampar engkau, hai tembok yang di kapur putih2”. Ini adalah suatu idiom atau sebutan yang menunjuk pada sifat yang munafik… bermuka dua. Bagaikan tembok yang dikapur putih: luar memang putih tapi dalamnya hitam. Demikianlah mereka adalah imam2 yang dari tutur katanya, dari tindakannya, dari penampilannya di depan publik kelihatan suci, namun hatinya hitam kelam karena kejahatan. Mereka yang mengaku menguasai seluruh Hukum Taurat sampai kedalamannya, namun tidak mampu menghayati hukum2 itu dalam kehidupannya sendiri.

Bapak-Ibu-Saudara2 yang dikasihi Tuhan,

Hati kita bagaikan suatu sumber air… Air yang berasal dari sumber ini, akan mengalir terus kehidupan kita dalam wujud tutur kata, pemikiran maupun tindakan kita di depan sesama. Jika hati kita terjaga dengan baik, ia akan menghasilkan kemurnian dalam kata2 yang kita ucapkan, dalam buah2 pikiran kita maupun tingkahlaku kita sehari-hari. Namun jika hati kelam dan penuh dengan iri, dengki, sikap ingin menjatuhkan orang lain, maka apapun yang kita lakukan, satu saat dia pasti muncul dan menjadi nyata di depan orang-orang. Seorang dai kondang mempopulerkan nyanyian seperti ini: “jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini”. Kita semua tahu bahwa hati harus dijaga ketat kemurniannya, tapi hanya orang-orang yang hidupnya dekat dengan Tuhan yang mampu mempertahankan kemurniannya hatinya dalam setiap keadaan, baik suka namun terlebih khusus dalam susah. Karena justru dalam keadaan seperti ini, kebijaksanaan yang lahir dari kemurnian hati betul2 membantu kita melewati kesusahan dan kesulitan2 hidup ini.

Bapak-Ibu-Saudara2 yang dikasihi Tuhan.

Setelah berdebat sejenak dengan para anggota majelis, Paulus berkata lagi (ayat 8): “Aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi;…” Waktu baca ini torang mungkin kage! Dalam satu bagian cerita injil, kepada orang2 Farisi Yesus sendiri pernah bilang: “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal2 yang baik?” Tapi kenapa justru Paulus mengaku sebagai bagian dari orang Farisi, bagian dari keturuan ular beludak yang disebut Yesus itu? Jika kita mau renungkan, ini justru strategi penginjilan Paulus. Ia sengaja memulai kalimatnya dengan menyatakan diri bahwa ia adalah orang Farisi, ia adalah bagian dari mereka, ia adalah seorang sarjana hukum taurat, yang digembleng oleh guru senior Gamaliel sejak dia kecil, ia bahkan pernah memimpin gerakan2 untuk menumpas orang kristen, pendek kata ia mau bilang bahwa dalam hal2 yang lahiriah, ia lebih Yahudi dari mereka, ia lebih Farisi dari mereka. Namun di salah satu bagian dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata: “tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena Kristus.” Bukankah ini sebuah kesaksian yang luar biasa?

Setelah mengaku bahwa ia adalah bagian dari orang Farisi, Paulus melanjutkan lagi: “aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.” Apa yang terjadi, Saudara-saudara? Disini kita melihat bukti bahwa kebangkitan itu punya kuasa! Mendengar kata2 Paulus itu, timbullah perpecahan antara orang Farisi dan Saduki. Bahkan dikatakan disitu bahwa “terjadi keributan yang besar”. Oleh satu kalimat saja, musuh kacau balau! Bahkan yang tadinya musuh kini berbalik menjadi kawan dan membela dia. Ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak karena kuasa Tuhan!

Bapak-Ibu-Saudara2 yang dikasihi Tuhan.

Menjadi murid2 Tuhan berarti menjadi orang2 yang diperlengkapi dengan kuasa. Yesus sendiri pernah bilang (Lukas 10:19): “Sesungguhnya aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan engkau”. Jika kita semua mau menjadi murid Tuhan, kita berhak atas kuasa itu dan tidak perlu kuatir akan segala tantangan dan tipu muslihat iblis. Gereja boleh saja dihambat… tapi sejarah membuktikan bahwa usaha itu tidak pernah berhasil. Kenapa demikian? Karena kuasa… kuasa yang sanggup menahan segala kekuatan musuh sehingga kita terhindar dari bahaya. Pertanyaannya: “Apakah kita percaya pada kuasa itu? Apakah kita punya keberanian untuk menggunakannya dimana perlu demi mempertahankan iman kita? Sayang sekali jika tidak demikian.

Bapak-Ibu-Saudara2 yang dikasihi Tuhan.

Saya suka sekali bagian akhir dari cerita ini. Ayat 11: “pada malam berikutnya Tuhan datang dan berdiri di sisinya… di sisi Paulus…dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu”. Saudara-saudara, perhatikan bahwa sekali lagi Tuhan bicara dan menekankan soal “HATI”: “kuatkanlah hatimu”. Tuhan mengerti bahwa meskipun hati kita murni, tapi hiruk-pikuk dunia ini bisa saja menodai kemurnian itu. Sebagai manusia, Paulus tentu tidak lepas dari kelemahan. Baru dua hari yang lalu dia dipukuli oleh massa, lalu harus menjalani interogasi secara kasar di depan para perwira romawi, kemarin hari ia baru menjalani suatu proses persidangan yang alot dan tentu sangat menentukan hidup dan matinya… jadi adalah wajar jika waktu2 ini adalah waktu yang berat dan melelahkan, baik bagi mental maupun fisik Paulus. Namun Tuhan tahu kelemahan umatNya… Ia hadir malam itu dan berdiri di sisi Paulus: “kuatkanlah hatimu”! Saya percaya, bahwa Ia juga mau hadir dalam kehidupan kita, terlebih dimana kita menhadapi berbagai pergumulan hidup, di sana Ia datang dengan kalimat yang sama seperti yang diucapkannya kepada Paulus… “kuatkanlah hatimu”. Semoga ini menjadi keyakinan kita semua dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang2 yang percaya kepadaNya. AMIN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *