Catatan dari even AI3/SOI-Asia Joint Meeting Spring 2018 (Bag.2)

Catatan dari even AI3/SOI-Asia Joint Meeting Spring 2018 (Bag.2)

May 25, 2018 Internet Networking 0

Sambungan dari Bagian 1

Selanjutnya, sesi dilanjutkan dengan IX Session menyangkut GOREX (The Guam Open Research & Education eXchange) Project, yang dibuka oleh penyampaian materi oleh Mr. Rommel Hidalgo dari University of Guam, Amerika Serikat. Setelah menyampaikan sedikit pengenalan tentang pulau Guam yang terletak di tengah lautan pasifik dan keadaan masyarakatnya dengan persentase terbesarnya adalah serdadu Amerika Serikat di pangkalan militer Guam, beliau membahas konektivitas kabel laut fiber optik yang digunakan oleh GOREX yang menghubungkan tiga benua Asia, Australia dan Amerika sehingga membentuk Pacific REN (Research Education Network). Letak pulau Guam sangat strategis karena berada di lokasi yang cocok sebagai hub dari interkoneksi tersebut (lihat gambar). Yang menarik adalah, salah satu interkoneksi kabel laut tersebut masuk ke Indonesia melalui Sulawesi Utara dan landing di pantai Kauditan, Minahasa Utara. Kebetulan saya sudah dengar info ini sejak meeting AI3/SOI-Asia tahun lalu yang diselenggarakan di UNSRAT. Sepertinya tahun ini sudah fully operasional, malah sudah digunakan untuk keperluan REN seperti halnya proyek GOREX. Di bawah ini saya kutipkan beberapa link berita di media lokal Indonesia mengenai proyek ini:

Presentation_Matelials_for_IX_Session__GOREX__-_Google_Drive.png

Konektivitas GOREX

Dalam sesi panel yang sama, Pak Dr. Affandi yang mewakili IDREN (Indonesia Research Education Network) menyampaikan introduksi mengenai IDREN serta rencana interkoneksi dengan GOREX. Sebagaimana yang dilaporkan Pak Affandi, sampai saat ini IDREN telah menghubungkan 83 node, yang terdiri atas perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, maupun institusi-institusi terkait pendidikan dan penelitian. Jaringan IDREN terhubung dengan REN global melalui TEIN. Suatu kebanggaan bagi UNSRAT karena cukup aktif berperan dalam IDREN, termasuk menjadi salah satu site yang sudah terkoneksi secara penuh, baik melalui konektivitas IPv4 maupun IPv6. Saya pribadi cukup concern dengan perkembangan IDREN, karena kebetulan pernah dilibatkan sebagai salah satu anggota Panitia Nasional ketika peluncuran IDREN tahun 2017 lalu. Meskipun adanya IDREN sudah merupakan capaian yang luar biasa bagi dunia penelitian dan pendidikan Indonesia, namun banyak hal yang masih perlu dibenahi, termasuk pemanfaatan jaringan yang sudah ada ini untuk kebutuhan riset dan pendidikan yang masih perlu ditingkatkan. Untuk itulah maka keterhubungan dengan jaringan GOREX tentunya akan sangat bermanfaat.

Presentation_Matelials_for_IX_Session__GOREX__-_Google_Drive.png

Node2 yang telah terhubung dengan IDREN

Meskipun diskusi tentang GOREX berlangsung cukup aktif, namun waktu dibatasi hingga makan siang. Sesudah lunch, sesi berikutnya adalah Research Presentation, dimana siapapun dalam keanggotaan project AI3/SOI-Asia dapat mempresentasikan project-project lokal terkait yang dilaksanakan di site masing-masing. Sejak pelaksanaan meeting tahun lalu (2017), saya selalu berpartisipasi dalam sesi Research Presentation dengan mempresentasikan kemajuan Tuturuga project yang kami kerjakan sejak 2017 (mengenai Tuturuga project ini, saya berencana akan membuat sebuah postingan sendiri di blog ini). Kali ini pun saya berpartisipasi dengan melaporkan progress hingga awal 2018 serta rencana kerja tahun ini. Presentasi yang saya beri judul “Tuturuga Project: Development of e-Learning Platform for the Community in the Rural Islands of Indonesia” mendapat sambutan yang cukup antusias dari audiens. Banyak komentar positif dan pertanyaan yang diajukan peserta, bahkan hingga sesi break. Sambutan ini pun segera saya teruskan ke anggota Tim Tuturuga di Manado melalui Whatsapp dengan harapan menjadi penyemangat dalam program-program selanjutnya.

Meeting kemudian dilanjutkan dengan Academic Steering Committee session dan juga Director’s meeting. Isinya adalah evaluasi kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan oleh AI3/SOI-Project pasca pertemuan terakhir serta membahas program-program yang akan dilaksanakan dalam waktu mendatang. Meeting hari kedua ditutup dengan makan malam di Restoran All Season, Manila.

Besoknya, acara tidak banyak. Hanya pembahasan tentang hal-hal teknis operasional AI3/SOI-Asia, termasuk rencana pemanfaatan UDL receiver berbasis Raspi yang sedang dikerjakan Dr. Achmad Basuki dari Universitas Brawidjaya. UNSRAT sangat concern dengan project ini berhubung kami sedang berusaha me-revive fasilitas UDL (Uni-Directional Link) kami di UNSRAT. Harapan saya semoga cepat selesai sehingga bisa segera kami implementasikan di UNSRAT.

Setelah penutupan keseluruhan meeting pada hari ke-3, saya pun berefleksi tentang seluruh pelaksanaan kegiatan ini. Poin penting yang menjadi pemikiran saya adalah, bahwa menyelenggarakan kegiatan seperti ini tentunya memakan biaya yang besar, serta waktu dan tenaga yang tersita untuk mempersiapkannya. Saya sendiri pernah merasakan “kerepotan” yang sama ketika menjadi tuan rumah penyelenggaraan AI3/SOI-Asia bi-annual meeting di UNSRAT tahun lalu. Namun dengan semua informasi yang terdistribusi selama tiga hari ini, juga semua relasi dan komitmen kerjasama yang telah terbangun atau diperkuat, rasanya semua pengorbanan daya dan dana terbayar sudah. Ini membuat saya mengerti, betapa hakekat dari scientific community bukan hanya berusaha keras membuat break thru dalam bidang ilmu masing-masing, tapi juga membangun kolaborasi dengan sesama peneliti atau praktisi lain untuk making progress secara bersama-sama.

Manila, 25 Mei 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *