Catatan dari even AI3/SOI-Asia Joint Meeting Spring 2018

Catatan dari even AI3/SOI-Asia Joint Meeting Spring 2018

May 24, 2018 Internet Networking 0

Dengan berakhirnya sesi Operation Task Force siang tadi, berakhir pulalah seluruh pelaksanaan AI3/SOI-Asia Joint Meeting Spring 2018 yang kali ini dilaksanakan di Gedung ASTI (Advanced Science and Technology Institute), Manila, Filipina. Meeting yang dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 22 s/d 24 Mei 2018 ini seperti biasa mempertemukan perwakilan masing-masing site anggota AI3 dan SOI-Asia Project. Di samping itu, ada pula beberapa undangan dari project-project terkait, seperti GOREX (The Guam Open Research & Education eXchange) dari University of Guam, Amerika Serikat dan COMPETEN-SEA project yang dibiayai Uni-Eropa, di mana saya pun tergabung di dalamnya.

Seperti pada meeting-meeting sebelumnya, hari pertama diawali dengan Workshop dimana Mr. Bani Lara dari ASTI menyampaikan materi tentang Science DMZ. Setelah makan siang, sesi dilanjutkan dengan Site Report dari masing-masing perwakilan site. Saya mewakili UNSRAT melaporkan perkembangan terakhir, khususnya reinstalasi antena parabola dan receiver system (yang masih gagal dan perlu di-assist oleh pihak SOI-Asia), juga melaporkan selesainya Studio Multimedia baru kami atas bantuan proyek COMPETEN-SEA.

Selanjutnya, sesi dilanjutkan dengan Open Education Session yang tujuannya melaporkan progress terakhir proyek COMPETEN-SEA, berhubung SOI-Asia termasuk pihak yang ikut mensupport COMPETEN-SEA. Materi disampaikan dalam bentuk panel yang terdiri atas 4 orang: 1) Prof. Wan Tat Chee dari USM Malaysia, 2) saya sendiri mewakili UNSRAT, 3) Dr. Achmad Basuki dari UB Malang, yang ini disampaikan secara online lewat video-conference, 4) dan Prof. Keiko Okawa dari Keio University Jepang. Dalam sesi ini saya membawakan materi yang diberi judul “Reaching the islands with MOOC: Store-and-forward approach”. Isinya adalah overview saya tentang strategi yang kami persiapkan untuk men-deliver MOOC (Massive Open Online Course) tentang kewirausahaan bagi target group di pulau-pulau terpencil Provinsi Sulawesi Utara. Isi presentasi saya dalam bentuk artikel dapat dibaca di sini.

Setelah break, kami dibawa berkeliling kampus ASTI untuk melihat fasilitas-fasilitas mereka. Yang paling menarik perhatian saya adalah data-center ASTI yang diletakkan dalam ruangan yang terbuat dari container-container bekas. Dari luar sekilas sangat sederhana dan jauh dari kesan futuristik data-center yang pernah saya kunjungi. Namun siapa sangka di balik penampilan sederhananya itu, data-center ASTI menjalankan sebuah super computer yang digunakan untuk keperluan komputasi berbagai aplikasi terkait penelitian ilmiah.

WhatsApp Image 2018-05-24 at 11.54.37.jpeg

Salah satu gedung data center ASTI

Di hari kedua Joint Meeting AI3/SOI-Asia, sesi dibuka dengan Opening Session dari perwakilan DOST-ASTI dan tukar-menukar cenderamata. Dilanjutkan dengan opening message dari Prof. Jun Murai. Seperti biasa, pidato Prof. Jun pasti ditunggu-tunggu, karena pastinya memuat beberapa informasi teranyar tentang apa yang menurutnya paling up-to-date di dunia Internet. Di bagian awal, Prof. Jun mereview kembali sejarah panjang proyek AI3 (sejak 1996) dan SOI-Asia (sejak 2001). Dalam hati saya berbangga karena masih setia berkecimpung dengan SOI-Asia Unsrat sejak awal berdirinya (tahun 2001) sampai sekarang. Prof. Jun kemudian menguraikan tentang perkembangan dan persepsi kita terhadap teknologi Internet yang dulunya sekedar infrastruktur, kini berkembang menjadi service platform. Dengan adanya Internet, real space yang dipisahkan batasan nation, region dan lain-lain, kini berubah menjadi cyber space atau global space dengan elemen-elemen seperti: komunitas, pendidikan, riset, pemerintah, bisnis, energi dan kesehatan. Beliau kemudian mengaitkan hal ini dengan perkembangan teknologi energi terbarukan serta penyimpanan energi, di mana ketika baterai-baterai penyimpan energi terhubung satu sama lain dapat saling menyuplai sehingga terciptalah service-based energy network, sehingga terbentuklah “Internet Battery Society”. Di bidang kedokteran, hal ini pun terjadi ketika berbagai peralatan kedokteran terhubung ke Internet dan berubah menjadi service (layanan), sehingga membentuk sebuah “Internet Health Society”. Intinya, peranan hardware akan semakin kasat mata karena orang akan melihatnya sebagai service (layanan) ketimbang device. Hal ini semakin didukung dengan makin banyaknya stakeholder dewasa ini yang mulai membuka datanya bagi publik (open data).

Bersambung ke Bagian 2….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *